Sepuluh menit kemudian, teman-teman mulai berdatangan. Termasuk Andre. Andre dan dua teman dekatnya—Bagas dan Bagus—terlihat berbisik-bisik, seperti membicarakan sesuatu.
“Dod, aku pinjam buku PR-mu dong! Sebentar lagi bel masuk, nih! Aku belum mengerjakan PR matematika!” ucap Andre pada Dodi sedikit kasar.
Dodi tersentak dan meletakkan sapu yang dipegangnya di samping bangku.
“Ndre, bukannya aku tidak mau meminjamimu. Tapi kalau kamu menyontek, bagaimana kamu nantinya? Kamu harus berusaha mengerjakan PR sendiri, sampai kamu benar-benar bisa! Apalagi sebentar lagi ujian kenaikan kelas, kan?”
“Ah, aku malas! Menyontek punyamu saja, toh Bu Guru tidak tahu!” balas Andre.
“Ayo cepat, berikan buku PR-mu!” teriak Bagas.
“Iya, cepat. Nanti keburu Bu Guru Aisyah datang!” Bagus tak mau kalah menambahi.
Andre didukung dua temannya itu. Mau tak mau, Dodi akhirnya mengeluarkan buku PR matematikanya dari dalam tas. Sebenarnya dia kecewa bukan karena mereka menyontek hasil kerja kerasnya, melainkan karena sifat pemalas mereka.
***
Pulang sekolah, Andre dan dua temannya menghampiri sepeda Dodi yang diparkir tak jauh dari sepeda mereka. Sepertinya mereka hendak melakukan sesuatu. Benar saja, Andre segera melancarkan aksinya. Yaitu sengaja mengempiskan ban sepeda Dodi.
Andre celingak-celinguk, memastikan tidak ada guru atau siswa yang melihat.
“Ndre, ayo cepat!”
“Sssttt ... kamu ini, malah diam saja! Bantu aku!”
“Iya, iya!”
Andre, Bagas dan Bagus telah selesai membuat ban Dodi kempis. Namun bersamaan dengan itu, Dodi melihat mereka. Dia diam saja, tak menegur atau meneriaki mereka. Setelah mereka pergi, barulah Dodi menghampiri sepedanya. Dia sangat sedih, mengapa teman-temannya begitu tega? Batinnya. Tapi Dodi tak putus asa. Dia akan meminjam pompa angin pada Bapak penjaga sekolah, pikirnya.
Syukurlah, Bapak penjaga sekolah mau membantu Dodi dengan sukarela. Setelah dirasa cukup, Dodi pun pamit pulang. Di perjalanan, Dodi masih tak habis pikir dengan kelakuan Andre dan teman-temannya. Tapi biarlah. Besok atau entah kapan, aku yakin mereka akan jera, batinnya.
***
Keesokan harinya, Bu Aisyah mengadakan ulangan matematika dadakan. Terang saja Andre, Bagas dan Bagus yang pemalas itu kelimpungan bukan main. Mereka akhirnya mengerjakan soal-soal ulangan dengan asal-asalan. Lain halnya dengan Dodi, Dodi mengerjakan dengan senyuman. Sebab dia rajin belajar dan kebetulan materi soal ulangan dadakan kali ini sama dengan materi belajarnya semalam.
Ulangan matematika berjalan dengan cepat. Bu Aisyah mengoreksi semua lembar ulangan siswa saat itu juga. Andre, Bagas dan Bagus terlihat sangat gelisah.
“Kita pasti dapat nilai jelek, nih!” bisik Andre pada dua temannya.
“Ah, kalau saja kita tadi menyontek, pasti kita dapat nilai bagus!” ujar Bagas tak kalah cemasnya.
“Tapi kan tadi kalian tahu sendiri. Dodi pelit! Dia tak mau meminjami lembar ulangannya,” kata Bagus.
Tibalah saat nama Andre disebut Bu Aisyah, disusul nama Bagas dan Bagus. Ketiganya ternyata hanya mendapatkan nilai 5. Sementara Dodi berhasil mendapatkan nilai 8. Tidak terlalu jelek, pikir Dodi sambil tersenyum lega.
Bu Aisyah pun memberikan pengumuman, siapa saja yang mendapatkan nilai di bawah 6, harus dikenai sanksi. Yaitu berlari memutari lapangan sekolah sebanyak 5 kali.
Andre, Bagas dan Bagus amat geram. Ini semua karena Dodi!
***
Hari berikutnya, Andre, Bagas dan Bagus tak kunjung jera. Mereka berangkat pagi-pagi sekali. Mereka sengaja ingin mengotori kelas supaya Dodi semakin lelah saat membersihkannya nanti. Berbagai jenis sampah disebar di sana sini. Mulai dari kertas, bekas bungkus jajan, botol bekas, juga beberapa permen karet yang dikunyahnya. Namun saat hendak melangkah keluar kelas, tiba-tiba ia terpeleset. Ia terjatuh tepat di atas permen karet yang baru saja disebarnya.
“Aduh! Bagaimana ini? Permen karetnya menempel di celanaku! Kamu, sih!”
“Lhah, kok aku! Kan kamu sendiri yang punya ide!
“Sudah, sudah. Lebih baik kita cepat pergi dari sini. Sebelum ada yang melihat!”
Mereka bertiga saling menyalahkan. Bersamaan dengan itu, Dodi datang. Disusul oleh Bu Aisyah dan beberapa guru yang lain. Termasuk Bapak penjaga sekolah. Rupanya, Dodi diam-diam sudah menceritakan tentang Andre, Bagas dan Bagus—yang sangat pemalas dan jahil.
“Nah, itulah akibat untuk anak pemalas. Kemarin nilai kalian jelek karena malas belajar, sekarang kalian kena batunya karena malas bersih-bersih.” ujar Bu Aisyah seraya memandangi Andre, Bagas dan Bagus.
Ketiganya terdiam, terlebih Andre. Dia masih susah payah untuk bangun. Sementara itu, Dodi dan Bapak penjaga sekolah menahan tawa. Yes, berhasil! pekik Dodi dalam hati.
Semarang, 31 Juli 2019
Dimuat di Padang Ekspres edisi Minggu, 04 Agustus 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar