Wajah Inara terlihat murung karena teman-teman mengejek jam tangan kuno yang dipakainya. Padahal jam kuno itu adalah pemberian bapaknya.
Di usianya yang masih sepuluh tahun, Inara memang gemar sekali memakai barang-barang kuno, begitu juga saat di sekolah. Dia tidak pernah malu karena bapaknya justru memiliki kios kecil yang menjual barang-barang kuno di pasar.
“Kok masih ada ya yang mau pakai barang-barang kuno di zaman sekarang!” seru Nadia sambil sesekali melirik Inara.
“Iya, tuh! Aku juga heran. Apalagi rumahnya, Nad! Serem pokoknya! Hiiyyy ....”
“Kalau aku sih mana mau main ke rumahnya, nanti yang ada malah aku jadi ikut-ikutan kuno! Isshh ....” Nadia memasang muka jijik.
Sementara yang dibicarakan hanya sanggup menunduk tanpa membalas perkataan Nadia.
“Memangnya salah ya kalau aku memakai barang-barang kuno? Apa mereka malu punya teman seperti aku?” ucap Inara lirih.
Inara pun akhirnya berlalu dari hadapan Nadia dan teman-temannya, lalu pulang ke rumah.
Besoknya, Inara tidak masuk sekolah. Para murid saling berkasak-kusuk membicarakan ketidakhadirannya hari ini, terutama Siska—teman sebangkunya.
“Siska, kamu tahu kenapa Inara tidak masuk sekolah hari ini?” tanya Bu Wati di sela-sela mengajar.
“Emm ... saya tidak tahu, Bu,” jawab Siska sambil menggeleng lemah.
Wajahnya seketika diliputi rasa gelisah yang luar biasa, seperti cemas kalau terjadi sesuatu pada Inara.
“Mungkin dia malu, Bu!” celetuk murid yang lain.
“Betul, Bu! Dia pasti malu! Dia kan aneh, kuno! Zaman sekarang kok masih mau pakai barang-barang antik! Horor, Bu! Hiiyyy ....” Nadia turut menambahkan.
Suasana kelas pun mendadak jadi gaduh. Wajah Bu Wati terlihat prihatin menatap murid-muridnya yang justru malah membuat keributan di tengah-tengah pelajaran.
“Sudah, sudah! Ibu minta kalian bisa tenang, ya! Kita lanjutkan pelajaran dulu!” ucap Bu Wati kemudian sambil memberi kode dengan kedua tangannya.
***
Saat bel pulang sekolah berbunyi, Bu Wati segera menghampiri Siska, sepertinya hendak bertanya sesuatu.
“Siska, kamu mau menemani Ibu ke pasar? Nanti kita sekalian mampir ke kios bapaknya Inara,” tanya Bu Wati dengan wajah semringah.
“Wah, kebetulan sekali, Bu! Rencananya, saya juga mau ke sana!”
“Nah, ayo berangkat!”
Setelah sampai di pasar, mata Bu Wati dan Siska tak henti-hentinya menatap berbagai barang kuno di kios-kios. Ada uang koin, kertas kuno, topeng, piring kuno, keris, batik, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Saat melihat-lihat itulah, mereka tak sengaja bertemu dengan Inara. Inara kemudian bercerita bahwa dia harus menggantikan menjaga kios karena bapaknya mendadak sakit.
“Wah, aku kira kamu malu karena teman-teman mengejekmu, Ra!” ucap Siska seraya merangkul Inara.
“Tidaklah. Aku justru bangga, karena bapak membiayai sekolahku ya dengan berjualan barang-barang kuno. Salah satunya jam tangan ini.”
Inara mengelus jam tangan kuno pemberian bapaknya itu dengan senyum bangga.
Dua hari berselang, Inara masih saja tidak masuk sekolah. Bu Wati mulai merasa khawatir jika Inara ketinggalan pelajaran terlalu jauh. Kemudian beliau menghampiri Inara lagi di kios bapaknya.
Wajah Inara berseri-seri saat Bu Wati menawarkan sesuatu yang tidak disangka-sangka.
***
Nadia sangat penasaran dengan kerumunan di dekat gerbang sekolah saat beberapa menit menjelang bel masuk berbunyi. Setelah berhasil menembus kerumunan itu, ternyata dia melihat Inara yang tengah duduk di atas kursi kecil. Di depannya sudah tertata berbagai macam barang-barang kuno.
Nadia menghasut teman-temannya supaya membubarkan diri, tapi sia-sia. Bu Wati tiba-tiba datang dan menasihatinya.
“Nadia, ibu rasa kamu sudah keliru menilai kalau Inara malu menggunakan barang-barang kuno. Lihatlah, dia tetap masuk sekolah bahkan rela berjualan di sekolah.”
“Tapi, Bu. Bukannya nanti malah mengganggu kegiatan di sekolah?”
“Tidak ada yang merasa terganggu, Nadia. Lagipula ibu yang mengusulkan ide itu dan kepala sekolah juga menyetujui. Kamu juga bisa lihat sendiri, murid-murid sangat antusias melihat dan membeli barang-barang kuno itu.”
Mendengar penjelasan Bu Wati, Nadia tertunduk malu karena merasa bersalah telah menuduh Inara yang bukan-bukan. Dia pun akhirnya dengan berbesar hati, kembali menerobos kerumunan murid-murid dan meminta maaf pada Inara.
“Aku minta maaf ya, Ra. Aku sudah salah menilai kamu. Mulai hari ini, aku akan belajar menghargai orang lain.”
“Iya, Nad. Aku sudah memaafkanmu dari dulu kok!”
“Best friend, ya?”
Inara dan Nadia saling mengaitkan jari kelingking mereka. Teman-teman yang lain bersorak-sorak. Sejak saat itu, Inara dan Nadia menjadi sahabat karib. Nadia sering membantu Inara berjualan barang-barang kuno. Lalu, keuntungan dari penjualannya dibelikan buku pelajaran tambahan.
Sepulang sekolah mereka belajar bersama. Hari ini di rumah Inara, besoknya di rumah Nadia. Begitu seterusnya. Nadia pun sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Inara yang tidak hanya baik, tapi juga berprestasi dan pekerja keras.
Semarang, Agustus-November 2019
Dimuat di Padang Ekspres edisi Minggu, 08 Desember 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar