Rabu, 25 Desember 2019

Selalu Ingat Nasihat dari Ibu, Oleh: Reni Asih Widiyastuti

Musim hujan sudah tiba. Bu Mulyani, selaku kepala sekolah SD Negeri Taman Delta Mas baru saja mewanti-wanti, agar murid-murid tetap belajar dengan giat selama musim hujan berlangsung. Mereka pun terlihat bersemangat dan tak perlu khawatir keluar rumah untuk membeli buku tambahan karena telah disediakan oleh Bu Mulyani. Kemudian, Agus sang ketua kelas mulai berkeliling, satu per satu dari murid memberikan sejumlah uang sesuai dengan harga buku tersebut.

Ketika Agus sampai di meja Mayla, Mayla tidak langsung memberikan uang padanya. Sebaliknya, Agus masih saja menunggu. Akhirnya, karena terlalu lama, dia melewati Mayla. Mayla hanya sanggup menatap Agus yang berlalu sambil terus menerima uang dari teman-teman yang lain dan mencatatnya dalam buku bersampul batik itu.

Setelah Agus selesai berkeliling ke seluruh kelas, dia melaporkan pada Bu Mulyani, siapa saja yang telah mengumpulkan uang, beserta  jumlah nominalnya. Bu Mulyani terlihat memeriksa sesaat. Nama murid-murid hampir semua tercatat. Tapi kening Bu Mulyani tiba-tiba berkerut, karena ternyata hanya nama Inara saja yang tidak ada di dalam buku itu.

“Mayla, kenapa cuma kamu sendiri yang belum mengumpulkan uang?” tanya Bu Mulyani penasaran.

“I—iya, Bu. Saya minta maaf karena ibu saya tidak pernah mengizinkan saya untuk membawa uang sebanyak itu ke sekolah. Tapi saya janji akan memberitahukan ini pada ibu saya, Bu,” terang Mayla.

“Baiklah, Mayla. Ibu mengerti. Sementara, kamu bisa meminjam pada Ratna, jadi kamu tidak akan ketinggalan pelajaran.”

Ratna, yang tidak lain adalah teman sebangku Mayla melirik sinis padanya. Seolah-olah, dia tidak boleh meminjam buku itu.

“Kamu dengar ya, May! Kalau sekarang bolehlah kita berbagi, karena Bu Mulyani yang menyuruh. Tapi besok, aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus punya buku ini juga!” bisik Ratna dengan nada penuh ancaman.

“Iya, Ratna. Aku janji.”

Ratna dan Mayla pun mulai berbagi buku selama pelajaran berlangsung. Sejujurnya, dalam hati, Mayla pusing bukan kepalang karena dia bingung harus bagaimana mencari uang sebanyak tujuh puluh ribu untuk membeli buku tersebut. Sedangkan untuk biaya kebutuhan sehari-hari saja ibunya harus rela membanting tulang, bekerja sebagai buruh cuci yang penghasilannya tidak seberapa.

Meski begitu, dia tidak patah semangat. Karena ibunya selalu berpesan, “Setiap orang memiliki rezeki masing-masing. Tugas kita adalah selalu berusaha dan berdoa untuk mendapatkan rezeki itu.”

Esoknya, ketika hendak berangkat ke sekolah, tiba-tiba petir menyambar-nyambar. Dan byuuurrr hujan turun begitu deras. Tapi wajah Mayla mendadak berubah murung. Bagaimana caranya dia ke sekolah, sementara sepedanya masih rusak? Ibunya juga sedang tidak enak badan. Tentu saja beliau tidak bisa mengantarkannya ke sekolah. Dia memutar otak secepat mungkin. Lalu, matanya tertumbuk pada sebuah payung di belakang pintu.

Dia pun mendapatkan ide cemerlang setelah melihat payung tersebut. Buru-buru, dilepaslah seragam sekolahnya dan menggantinya dengan kaos biasa. Tidak hanya itu, dia juga membuat jas hujan dari kantong plastik besar yang biasanya digunakan untuk membungkus sampah. Karena memang di rumahnya tidak pernah disediakan jas hujan. Tak lama, setelah memotong beberapa bagian, jadilah sebuah jas hujan sederhana buatannya. Dengan langkah mantap, dia segera mengambil payung dan mulai keluar dari rumah.

“Ojek payung! Ojek payung!” teriak Mayla di tengah-tengah hujan yang kian deras.
Lima menit berlalu, mata Mayla berbinar cerah karena dia mulai mendapatkan pelanggan pertama, yang tak lain adalah Bu Fatimah, salah seorang tetangga yang hendak pergi ke warung terdekat.

“Mayla, bukannya kamu harus berangkat ke sekolah, ya? Kok malah ngojek payung?” tanya Bu Fatimah.

“Iya, Bu. Sepeda saya di rumah sedang rusak, dan ibu sedang tidak enak badan. Ditambah saya belum membayar uang buku tambahan. Dengan mengojek payung, lumayan uangnya bisa untuk membeli buku itu, Bu.”

“Ibu salut sama kamu, May. Kamu tidak lantas pasrah dengan keadaan, tapi bisa tetap berbakti pada ibumu dengan mencari uang melalui ojek payung ini. Ya sudah, ini buat kamu. Kembaliannya ambil saja. Semoga laris ojek payungnya, ya. Ingat, jangan keasyikan. Nanti malah terlambat ke sekolah,” ucap Bu Fatimah setelah sampai di warung.

“Terima kasih, Bu Fatimah. Siap, Bu!”
Mayla segera kembali lagi ke tempat semula dan beberapa kali mendapatkan pelanggan. Beruntungnya, dia selalu berangkat ke sekolah lebih awal. Jadi pekerjaan dadakan seperti ini tidak membuatnya terlambat ke sekolah. Setelah di rasa cukup, dia kembali ke rumah dan segera mengambil perlengkapan sekolahnya.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada yang memanggilnya. Ternyata dia adalah Ratna.

“Mayla! Tunggu!”

“Eh, kamu, Rat. Kamu jalan kaki?”

“Iya, aku sengaja mau temanin kamu.”

“Bukannya kamu paling ma—”

“Paling malas jalan kaki maksud kamu?”

“Hehe. Iya.”

“Aku tadi lihat kamu waktu mengantar Bu Fatimah ke warung. Kebetulan tadi aku juga ada keperluan di sana. Maaf kalau tadi aku nggak sengaja dengarin percakapan kamu sama Bu Fatimah. Semoga lekas sembuh buat ibumu, ya. Sekarang aku sadar, Ra. Ternyata kamu anak yang gigih dan mau bekerja keras tanpa rasa malu. Aku minta maaf soal yang kemarin ya, May!”

“Oh, nggak apa-apa kok, Rat. Justru aku bersyukur, berkat kamu, aku jadi semangat. Aku juga selalu mengingat nasihat dari ibu, supaya selalu berusaha dan berdoa agar mendapatkan rezeki. Sekarang sudah terbukti, dan aku bisa membeli buku tambahan dari hasil ojek payung tadi.”

Ratna dan Mayla saling melempar senyum di antara hujan yang mulai mereda. Mereka melanjutkan perjalanan ke sekolah. Sejak saat itulah, mereka menjadi sahabat karib. Sikap Ratna pun berubah seiring persahabatan yang baru terjalin itu. Kini dia mampu menghargai orang lain dan selalu mengingat nasihat dari ibunya. Sama seperti yang dilakukan Mayla.


Semarang, Desember 2019

Dimuat di Padang Ekspres edisi Minggu, 22 Desember 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar