Minggu, 12 Juli 2020

Berkat Uang Sepuluh Ribu, oleh: Reni Asih Widiyastuti

Siang ini—sepulang sekolah, Fandy mengajak beberapa temannya untuk belajar kelompok bersama di rumahnya. Kebetulan, ada tugas dari Pak Guru Saiful—guru bahasa Indonesia. Mereka berjalan kaki dengan senang hati, mengingat jarak antara sekolah dan rumah Fandy tidak terlalu jauh. Paling hanya memerlukan waktu kurang lebih 10 menit.

Di tengah-tengah perjalanan,saat teman-temannya sedang asyik bercanda dan mengobrol, mata Fandy tertumbuk pada sesuatu. Ya, dia seperti melihat selembar uang sepuluh ribu. Meski tidak terlalu jelas dan sedikit tertutup oleh batu. Dia pun semakin mendekat ke arah uang tersebut tanpa memberi tahu teman-temannya. Lalu, diambillah uang itu.

“Fan, ada apa, sih?” tanya Santi, salah satu temannya.

“Ah, ini. Anu, nggak ada apa-apa, kok. Aku cuma membetulkan tali sepatu, San,” kata Fandy seraya menggenggam erat uang tersebut agar tidak diketahui oleh Santi.

Santi awalnya sedikit curiga, tapi kemudian tersenyum pada Fandy. Begitu juga dengan Fitri, Boni dan Hasan. Mereka tak mempermasalahkannya dan melanjutkan perjalanan pulang.

Dengan langkah gontai, Fandy pun mengikuti langkah teman-temannya. Dalam hati, dia merasa sangat bersalah. Dia bingung, sebab sebenarnya itu bukan uangnya melainkan uang orang lain.

***

Sesampainya di rumah, Fandy tidak langsung menceritakan soal uang sepuluh ribu tersebut. Dia dan keempat temannya sepakat untuk mengerjakan tugas terlebih dulu. Bagaimanapun, itu adalah tujuan utama mereka belajar kelompok.
Setelah satu jam berlalu, tugas dari Pak Guru Saiful akhirnya selesai mereka kerjakan. Kemudian, takut-takut Fandy bercerita pada teman-temannya.

“San, sebenarnya tadi aku bohong sama kamu,” kata Fandy.

“Hah, soal apa?” Santi merasa terkejut.
Fitri, Boni dan Hasan juga tak kalah penasaran. Semua tertuju pada Fandy.

“Jadi begini, teman-teman. Tadi sebenarnya tali sepatuku nggak lepas, melainkan aku menemukan ini,” papar Fandy seraya menunjukkan uang sepuluh ribu yang ditemukannya tadi di hadapan teman-temannya.

“Wah, itu namanya rezeki, Fan!” ucap Hasan dengan mata berbinar.

“Benar, toh kalau mau dikembalikan, pasti susah menemukan siapa pemiliknya! Ya, nggak? imbuh Boni kemudian.

“Iya. Simpan saja uang itu, Fan. Atau kalau kamu nggak mau, biar buat aku saja! Hahaha ....” Fitri juga ikut menambahkan sambil tertawa keras.

Santi yang sedari tadi mendengarkan, turut mengangguk. Seolah-olah dia sependapat dengan teman-teman yang lain.
Intinya, pendapat teman-teman hampir sama. Tapi tidak bagi Fandy. Ada yang mengganjal dalam hatinya, meskipun sebenarnya bisa saja dia mengikuti saran teman-temannya.

“Ya sudah, kita pamit pulang dulu, Fandy. Terserah kamu saja. Yang penting, uang itu kamu simpan,” kata Santi disusul Boni, Fitri dan Hasan.

Mereka pulang, tapi setidaknya ucapan Santi membuat hati Fandy sedikit lega.

***

Esoknya—ketika hendak berangkat ke sekolah, Fandy diam-diam membawa uang itu dan memasukkanya ke dalam tas. Tanpa menunggu lama, dia melesat keluar rumah setelah berpamitan pada ibu.

Fandy berjalan agak cepat menuju ke sekolah dengan perasaan waswas. Takut kalau-kalau ibu memergokinya. Namun, saat baru beberapa meter meninggalkan rumah, dia melihat seorang bapak yang berjalan sambil menuntun motor. Ragu-ragu dia mendekati bapak itu dan bertanya.

“Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu? Sepertinya Bapak sedang dalam kesulitan?”
Bapak tersebut seketika menoleh dan tersenyum ramah pada Fandy. Fandy pun balas tersenyum.

“Ah, ya. Ini, kebetulan bapak kehabisan bensin. Sungguh, bapak lupa. Seingat bapak, bensinnya masih cukup kalau hanya untuk perjalanan pendek.”

Fandy menganggut-anggut. Bagaimana caranya menolong bapak ini, ya? Batinnya.
“Saya tahu penjual bensin dekat sini, Pak!”

Mereka berjalan beriringan. Setelah lima menit berlalu, sampailah mereka di tempat jual bensin eceran. Kemudian Bapak itu segera meminta pada penjual untuk mengisikan bensin ke dalam motornya. Tapi saat hendak membayar, Bapak itu merogoh saku celananya dan terlihat kebingungan. Mungkin dompet beliau tertinggal di rumah.
Fandy menelan ludah. Haruskah ia mengorbankan uang sepuluh ribu di dalam saku celananya? Bukannya Santi berpesan agar ia menyimpannya?

“Mm ... kalau Bapak mengizinkan, bolehkah saya membayarnya dengan uang ini?” ujar Fandy sambil mengeluarkan uang sepuluh ribu itu.

“Nggak usah. Itu uangmu, lebih baik disimpan saja.”

“Tidak, Pak. Sebenarnya ini bukan uang saya, ini saya temukan di jalan.”

“Oh, ya? Bapak bangga sekali sama kamu. Ya, walaupun kamu menemukan uang itu di jalan, kamu tidak sembarangan menggunakannya. Kamu justru berniat baik dengan membantu bapak. Begini saja, bagaimana kalau uang itu bapak pinjam dulu?”

“Ya, Pak. Nggak apa-apa.”

“Oh, ya. Kamu mau berangkat ke sekolah? Bapak antar sekalian, ya!”

“Nggak usah, Pak. Lagipula saya sudah terbiasa jalan kaki ke sekolah.”

“Nggak apa-apa. Ayo naik, nanti keburu terlambat!”

Mereka segera melesat dan setelah menempuh perjalanan selama 5 menit, sampailah mereka di depan gerbang sekolah. Fandy pun meminta pada bapak itu untuk menghentikan laju motornya. Lalu turun dari motor dan mengucapkan terima kasih.

“Lho, kamu sekolah di sini?”

“Iya, Pak. Ada apa ya, Pak?”

“Wah, kok bisa kebetulan begini, ya? Saya guru baru di sekolah ini. Kenapa tadi kamu nggak bilang sama bapak?”

Pak Guru yang ternyata bernama Bahri itu segera memarkirkan motornya. Kemudian beliau merangkul Fandy dengan bangga. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, Fandy semakin semangat dalam belajar, karena Pak Bahri sangat baik dan telaten dalam mengajar para murid. Dia juga tidak pernah lupa, ternyata berkat uang sepuluh ribu yang ditemukannya, dia bisa bertemu dengan salah satu guru terbaik di sekolahnya.

Semarang, Oktober-Desember 2019

Dimuat di Janang.id edisi Rabu, 15 Januari 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar