Minggu, 12 Juli 2020

Gara-Gara Begadang, oleh: Reni Asih Widiyastuti

Pagi ini wajah Dio terlihat kuyu dan matanya merah. Jalannya pun sempoyongan sampai-sampai dia tidak sadar menabrak Ammar. Ammar segera menangkap tubuh Dio dan bertanya.

“Kamu kenapa sih, Dio? Kok aku lihat dari tadi kamu tidak bersemangat?”

“Eh, aku ... tidak apa-apa, kok!” jawab Dio sambil mengucek-ngucek kedua matanya.
“Yakin?”

“Iya!”

Teettt ... teettt ... teettt ...

Bel masuk berbunyi, dan mereka pun bergegas masuk ke kelas. Tak lama, Pak Tio datang. Beliau segera memerintah semua murid untuk membuka buku paket.
Pelajaran berlangsung dengan khidmat. Tapi Pak Tio seperti mendengar suara dengkuran yang sangat keras.

“Siapa yang tidur?” tanya Pak Tio.

Semua murid terdiam. Tidak ada yang berani menjawab, begitu juga dengan Ammar. Meski dia sebenarnya tahu kalau yang dimaksud adalah Dio. Kebetulan Dio duduk di bangku paling belakang. Setelah Pak Tio mengedarkan pandangan, beliau akhirnya melihat Dio sedang tertidur dengan kepala yang disandarkan di atas meja.

“Dio, bangun!” ucap Pak Tio setelah sampai di depan meja Dio.

“Eh, i-iya, Pak! Ada apa ya, Pak?”

“Ada apa, ada apa! Cepat berdiri di luar kelas!”

Semua murid tertawa menyaksikan Dio yang dihukum.

***

Malamnya, Dio menceritakan kejadian hari ini pada ibu. Ibu pun sempat menasihatinya agar jangan begadang. Tapi agaknya di tidak jera juga.

“Dio, jangan keasyikan main game, besok bisa kesiangan, lho?”

“Iya, Bu. Ini juga mau Dio matikan komputernya.”

Dio berbohong pada ibu. Biarlah, sebentar lagi, game-nya masih seru, pikirnya.
Paginya, ketika hendak berangkat ke sekolah, Dio buru-buru memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas. Namun dia tidak sadar kalau buku PR yang dikerjakannya semalam tidak ikut dimasukkan.

Sesampainya di sekolah, Dio melihat teman-temannya yang sibuk memamerkan PR mereka. Salah satu dari mereka segera menanyainya.

“Dio, kamu suda kerjakan PR?”

“Sudah dong!” balas Dio dengan sombongnya.

“Mana, coba aku lihat!”
Dio segera membuka tasnya dan hendak menunjukkan PR yang dia kerjakan semalam. Tapi sayang, setelah berulang kali memerika tas, buku itu tidak ada di dalamnya.

Wajah Dio cemas seketika. Bagaimana mungkin, bukankah tadi pagi buku itu ada di meja belajarnya? Dio terus berpikir keras. Dia mencoba mengingat-ingat lagi, tapi sia-sia. Dia tetap tidak tahu, kenapa buku PR-nya tiba-tiba tidak ada.

Setelah bel masuk berbunyi, Pak Tio segera memeriksa PR semua murid satu per satu. Ketika tiba giliran Dio, dia gelagapan menjawab.

“Ma-maaf, Pak. Mungkin terjatuh dari meja waktu sayamau berangkat, Pak.”

“Dio, seharusnya kamu bisa membereskan buku-bukumu sehabis belajar. Lalu, memasukkannya ke dalam tas tadi malam. Supaya tidak ketinggalan seperti ini.”

“Maaf, Pak. Tadi malam setelah belajar dan mengerjakan PR, saya bermain game sampai larut. Lalu tiba-tiba saya ketiduran,” kata Dio sambil menunduk malu.

“Dio, begadang apalagi sambil main game itu tidak baik. Mata kita sudah lelah seharian, tapi masih dipaksa bekerja hingga larut malam. Kalau terus-terusan, mata kita akan sakit. Kamu tidak mau kan kalau sampai sakit?” Pak Tio menasihati Dio dengan bijak.

“Iya, Pak. Saya tidak mau sakit. Mulai hari ini saya akan berjanji tidak akan begadang dan main game lagi sampai larut malam.

Semua murid turut mendengarkan penjelasan dari Pak Tio. Akan tetapi, Pak Tio tetap memberikan hukuman untuk Dio, supaya dia benar-benar jera. Beliau juga mengingatkan anak-anak yang lain untuk selalu sadar diri akan pentingnya menjaga kesehatan, salah satunya kesehatan mata. Yaitu dengan tidak begadang di malam hari.

Semarang,  23 Oktober 2019

Dimuat di Solopos edisi Minggu, 03 November 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar